free html hit counter Tips Agar Balita Tidak Takut ke Dokter Gigi

Tips Agar Balita Tidak Takut ke Dokter Gigi


tips agar balita tidak takut ke dokter gigi
tips agar balita tidak takut ke dokter gigi

tips agar balita tidak takut ke dokter gigi – Beberapa sementara lalu gusi anak saya abses, jadilah dia kudu bersua dengan dokter gigi anak. Di rumah udah saya beri motivasi-motivasi nih agar nggak cemas ke dokter gigi. Selanjutnya gimana?

Berhasil, anak saya sanggup duduk anteng sementara dokter bersihkan giginya. Meskipun saya kudu memangkunya duduk di kursi pasien yang imut banget soalnya warnanya pink. Masalah baru terlihat di kunjungan kedua. Anak saya menangis histeris dan nggak rela ditambal giginya.

Berbagai macam perihal nggak berhasil membuatnya luluh. Tangisannya semakin keras dan tubuhnya menegang. Fiuh, rasanya hampir menyerah. Tapi bu dokter gigi bilang, dia kerap banget mendapatkan pasien seperti anak saya, yang mencoba membuat ketetapan sendiri melalui tangisan dan bahasa tubuhnya, padahal nggak ada perihal yang membuatnya sakit agar kudu cemas sama dokter gigi.

Semoga para Bunda nggak mengalami seperti yang saya alami ya. Kesalahan terbesar saya adalah baru mengenalkan dokter gigi sementara anak udah balita, sebab berasumsi seluruh baik-baik saja tanpa konsultasi ke dokter gigi anak.

Tips Agar Balita Tidak Takut ke Dokter Gigi

Nah, dikutip berasal dari berbagai sumber, cara-cara ini mungkin sanggup diterapkan untuk menangani kecemasan anak sementara kudu berkonsultasi ke dokter gigi:

1. Mulai Sejak Dini

Semakin dini kami mempunyai si kecil untuk berteman dengan dokter gigi maka akan lebih baik. Rhea Haugseth, D.M.D., Presiden American Academy of Pediatric Dentistry menjelaskan sementara usia anak satu tahun merupakan sementara paling baik mempunyai anak ke dokter gigi, sebab di usia itu beberapa gigi anak kebanyakan udah tumbuh.tips agar balita tidak takut ke dokter gigi

2. Sederhanakan Semua Hal

Saat akan mempunyai anak ke dokter gigi, jangan mengimbuhkan informasi yang berlebihan, Bun. Sampaikan segala perihal dengan bahasa yang sederhana dan nggak terkesan ribet. Misalnya nih sementara gigi anak akan ditambal, kami nggak kudu menceritakan dengan cermat apa yang akan dijalankan dokter gigi anak.

Sebaiknya lumayan menjelaskan gigi dibersihkan lalu ditutup pakai semacam play dough. Ada baiknya di rumah membuat semacam simulasi menambal gigi, menjadi anak terbayang apa yang dijalankan oleh dokter gigi, agar anak nggak gelisah.

“Hindari menjelaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja, sebab kalau anak kelanjutannya membutuhkan perawatan, dia mungkin akan kehilangan kepercayaan terhadap dokter gigi dan orang tuanya,” kata Joel H. Berg, DDS, MS, Direktur Departemen Kedokteran Gigi di Seattle Children’s Hospital, dikutip berasal dari Parents.

3. Bermain Peran

Sebelum ke dokter gigi, yuk kami ajak anak bermain pura-pura dokter gigi dan pasiennya. Bermula berasal dari anak mengantre, menanti panggilan periksa. Setelah nama anak dipanggil, anak diminta duduk di kursi atau sofa. Kita sanggup menggunakan, sikat gigi, sendok kecil, senter, dan cermin kecil untuk digunakan sebagai perlengkapan bermain peran.

Saat main pura-pura, menjauhkan menirukan nada mesin bor gigi atau instrumen lain yang sanggup membuat anak gelisah ya, Bun, Selanjutnya giliran si kecil yang bermain peran dengan bonekanya. Kuncinya adalah membuat anak punya kebiasaan dengan kegiatan rutin, agar dia nyaman sementara terlalu pergi ke dokter gigi.

Buku bergambar dengan ilustrasi rinci dan bahasa yang gampang dimengerti juga sanggup menunjang anak merasakan seperti apa sih periksa ke dokter gigi.

4. Pilih Tempat yang Ramah Anak

Coba, Bun, tanyakan ke teman-teman kira-kira berkenaan panduan dokter gigi anak yang bagus. Pastikan juga area praktiknya ramah anak. Bunda sanggup cari tahu seramah apa sih area praktiknya. Misalnya nih, di ruang praktiknya ada sejumlah film kartun yang menarik, dindingnya ada gambar yang lucu, agar anak nggak takut.

drg Suzanty Ariany, Sp.KGA beberapa sementara lalu bilang kalau anak menjadi senang, tentu tidak akan menjadi ketakutan. Bahkan anak akan menjadi kegiatan memeriksakan gigi ke dokter adalah kegiatan yang menyenangkan.

Kerap kali juga komunikasi dijalin dengan orang tua sebelum mereka mengajak anaknya ke drg Susi. Misalnya drg Susi, panggilan akrabnya, akan meminta informasi apa kesukaan anak, rasa pasta gigi kesukaan. Terkadang drg Susi juga meminta orang tua membelikan sikat gigi yang sanggup berputar.

“Dengan memiliki sikat gigi yang sanggup berputar, anak tidak akan kaget saan menemukannya di dokter gigi. Kadang di ujung bor juga diberi semacam sikat gigi itu. Setela gigi dibersihkan, baru dibor. Kalau menangani anak itu caranya adalah ‘tell show you’. Semua diberi tahu dan ditunjukkan,” papar alumnus FKG UI ini dikutip berasal dari detikHealth.

5. Jangan Menyuap Anak
Kita kudu ingat baik-baik, Bun, jangan pernah menyuap atau menjanjikan hal-hal yang bagus terhadap anak dengan syarat dia kudu bersikap yang baik sementara periksa gigi. Soalnya perihal seperti ini hanya membuat anak menjadi semakin takut.

Ketimbang menyuap anak, sebaiknya sehabis anak selesai dicek giginya, kami berikan pujian bahwa dirinya udah terlalu berani. Memberi hadiah kecil seperti stiker atau mainan kecil juga sanggup menjadi kejutan yang menyenangkan buatnya.

6. Persiapkan Diri Saat Anak Ngambek

drg Haugseth bilang normal banget anak-anak yang masih kecil akan menangis dan merengek, dan juga nggak rela giginya dicek orang asing. Saat anak menjadi menangis dan merajuk, kami kudu tetap tenang nih, Bun. Percaya deh, dokter gigi anak udah lihat banyak anak yang menangis dan tantrum di ruang praktiknya.

drg Haugseth merekomendasikan untuk membebaskan dokter gigi dan perawat membimbing kami untuk membantunya di dalam mengimbuhkan perawatan gigi anak, apakah itu dengan tetap berada di kejauhan atau dengan memegang tangan si kecil.

7. Jadikan Kegiatan ke Dokter Gigi Sebagai Kebutuhan

Kita juga kudu banget nih, Bun, menanamkan ke anak bahwa kegiatan berkonsultasi ke dokter gigi itu bukan pilihan, melainkan kebituhan. Iya, kami perlu merawat gigi kami agar tetap bagus dan nggak bolong. Karena itu tidak cuman gosok gigi teratur, kami juga kudu cek kesehatan gigi secara berkala.

Nah agar anak sanggup tenang sementara diperiksa, Mama sanggup mengikuti tips di bawah ini ya!

1. Buat pemeriksaan gigi menjadi bagian rutin yang normal dan tertata 3-6 bulan sekali

Kecemasan yang dirasakan anak sementara ke dokter gigi sanggup dikurangi dengan rutin melaksanakan pemeriksaan gigi. Semakin rutin, maka semakin sedikit terlihat kecemasan anak. Inilah sebabnya mengapa penting untuk memulai pemeriksaan rutin 3-6 bulan sekali.

Jika anak berusia lima atau enam tahun secara tiba-tiba diajak ke dokter gigi, ia akan lihat dunia baru kamar putih, bau-bauan yang asing, dan tangan dokter yang memegang bagian wajahnya, tentu akan menakutkan. Tapi, kalau si kecil tumbuh dengan tradisi berkunjung ke untuk janji rutin, itu hanya akan menjadi seperti bagian berasal dari kehidupan normal.

Jangan lupa bahwa kesuksesan arahan ini di awali berasal dari Mama. Anak kudu lihat bahwa ini adalah bagian yang normal dan teratur, menjadi menjauhkan lalai di dalam membuat janji periksa gigi ya!

2. Hindari untuk menjelaskan terlalu banyak cermat yang mengundang lebih banyak pertanyaan

Saat buat persiapan kunjungan, khususnya bagi yang pertama kalinya, coba untuk tidak menjelaskan terlalu banyak detail. Karena itu akan mengundang lebih banyak pertanyaan, dan anak mungkin akan mendapatkan banyak informasi berkenaan perawatan tambahan yang mungkin dibutuhkan, perihal selanjutnya sanggup membuat kecemasan bagi anak.

Pertahankan sikap positif sementara mengupas kunjungan yang akan datang, tapi jangan beri anak harapan palsu. Hindari menjelaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja, sebab kalau anak kelanjutannya membutuhkan perawatan, ia mungkin kehilangan kepercayaan terhadap Mama dan dokter gigi.

3. Hindari pakai kalimat yang condong negatif untuk melukiskan situasi pemeriksaan

Ini sanggup menjadi perihal yang rumit untuk dilakukan, sebab kebanyakan orangtua bicara berkenaan dokter gigi dengan cara yang terlalu spesifik. Namun, coba untuk kurangi pakai kalimat yang condong negative untuk melukiskan situasi sementara pemeriksaan gigi anak.

Ini terlalu penting untuk kalimat yang “menyakitkan” dan “menakutkan”. Selain itu, coba untuk menjauhkan istilah-istilah seperti ‘suntikan,’ khususnya kalau anak memiliki pengalaman stres dengan jarum di era lalu.

Jika anak berkelanjutan mendengar ke dokter gigi adalah pengalaman yang menakutkan, menyakitkan, dan menakutkan, ia akan condong panik apalagi sementara hanya kunjungan rutin yang melibatkan sedikit pemeriksaan dan tanpa rasa sakit.

Triknya bukan untuk membohongi seorang anak, tapi coba untuk mengimbuhkan kalimat positif dan memotivasi anak.

4. Sebelum ke dokter gigi, coba bermain peran dengan anak untuk menjadi dokter gigi dan pasien

Sebelum kunjungan ke dokter gigi yang pertama kali, coba bermain peran dengan anak untuk menjadi dokter gigi dan pasien. Gunakan sikat gigi lalu kalkulasi gigi si kecil yang di awali dengan angka 1 atau huruf A.

Hindari membuat nada bor atau nada asing. Mama juga sanggup mengangkat cermin dan memperlihatkan kepadanya bagaimana dokter gigi sanggup lihat dan memeriksa giginya.

Kemudian biarkan anak bermain peran dengan pakai sikat gigi untuk bersihkan gigi boneka binatang atau boneka lainnya. Kuncinya adalah membiasakannya dengan tradisi agar dia lebih nyaman untuk kunjungan sesungguhnya.

5. Cobalah untuk mengajak anak ke dokter gigi spesialis tertentu untuk anak-anak

Beberapa orangtua mempunyai anak-anak mereka ke dokter gigi umum, tapi para ahli menjelaskan ini adalah kesalahan. Bahkan mungkin orang dewasa sendiri mungkin menjadi khawatir berkenaan kunjungan ke dokter gigi, dan anak mungkin merasakan kecemasan itu.

Cobalah untuk mengajak anak ke dokter gigi spesialis anak, yang memiliki situasi ceria dengan membuat klinik ramah anak seperti memiliki permainan video, gambar-gambar yang menyenangkan di dinding, dan film atau acara TV yang dinikmati anak-anak.

Menceritakan kisah perang dan pengalaman negative lainnya juga akan membuat kecemasan, khususnya sebab anak mungkin pada mulanya tidak pernah dan tidak tahu prosedur pemeriksaan di dokter gigi.

6. Pahami disaat anak rewel sementara dicek dan biarkan dokter untuk membimbing Mama

Pahami bahwa normal dan sesuai usia kalau seorang anak kecil untuk menangis, merengek, menggerak-gerakan badannya, dan tidak menginginkan dicek oleh orang yang menurutnya asing.

Tetap tenang dan ingat bahwa dokter gigi dan stafnya punya kebiasaan bekerja dengan anak-anak dan mungkin udah kerap lihat dan menangani kemarahan anak-anak.

Kemudian biarkan dokter gigi untuk membimbing Mama, mereka mungkin meminta untuk merawat jarak, atau menunjang memegang tangan anak yang akan mengimbuhkan kenyamanan dan mencegahnya raih peralatan pemeriksaan.

7. Hindari menjanjikan sesuatu terhadap anak kalau ia berlaku baik dan tak menangis di dokter gigi

Banyak ahli tidak merekomendasikan untuk menjanjikan sesuatu kepada anak kalau ia berlaku baik di dokter gigi. Melakukan perihal itu hanya akan tingkatkan kecemasan mereka.

Mengatakan, “Kalau kamu nggak rewel atau menangis, kamu akan mendapat permen lolipop,” perihal ini mungkin membuat si Kecil berpikir, “Apa yang terlalu buruk agar mungkin saya menginginkan menangis?”

Menjanjikan makanan manis juga mengirimkan pesan yang salah, sebab sehabis ke dokter gigi seharusnya menekankan anak memiliki gigi yang bersih dan sehat, dengan menjauhkan permen yang justru sanggup membuat gigi berlubang.

Sebaliknya, sehabis kunjungan selesai, pujilah si Kecil atas tabiat dan keberaniannya yang baik. Sesekali, kejutkan dia dengan stiker atau mainan kecil sebagai dorongan.

8. Berikan pemahaman terhadap anak bahwa dokter gigi akan menunjang anak merawat giginya

Ajari anak bahwa berkunjung ke dokter gigi adalah suatu keharusan, bukan pilihan, dan bahwa dokter gigi akan merawat giginya agar mereka lumayan kuat untuk dia makan.

Mama mungkin juga menjelaskan bahwa dokter gigi menunjang merawat gigi mereka agar tidak berlubang dan meyakinkan bahwa pasiennya akan memiliki senyum yang indah untuk tahun-tahun mendatang.

Sikap Mama dan Papa untuk mengajak si Kecil ke dokter gigi akan menentukan apa yang anak berharap di dalam raih kesehatan mulut yang sempurna untuknya.


log in

reset password

Back to
log in